Kebebasan yang Dilacuri Aturan Kampus

 

Oleh: Junaedi

Direktur LAPMI Kom. Dakwah HMI Cabang Gowa Raya

Kebebasan bukan pemberian cuma-cuma tetapi kebebasan harus direbut

Albert Camus

Mustahil kemajuan terjadi tanpa perubahan, dan mereka yang tidak mengubah pikiran, tidak bisa mengubah apapun

George Benhard Shaw

Setiap orang menginginkan kebebasan untuk mencari jati diri mereka sendiri. Tapi hari ini gerakan mahasiswa dipatahkan lewat aturan main kampus yang diterapkan PT. Sedangkan disisi lain juga ada restrukturisasi aturan kampus agar tidak membiarkan mahasiswa berada dalam ruang mimpi nya: jadi pemberontak,jadi agen perubahan hingga jadi aktor penggerak. Ciutkan harapan mahasiswa pada satu titik jelas calon tenaga kerja. Sebagai calon pekerja yang tangguh mahasiswa diasah kemampuannya sebagai buruh. Taat pada jadwal, patuh terhadap aturan dan saksi tegas atas bagi yang melanggar. Itu berlaku Semenjak peristiwa NKK/BKK tahun 1978 kita sudah di tekan untuk selalu fokus dibidang akademisi saja. Ruang-ruang diskusi pun dibatasi dengan dihancurkannya tempat mereka untuk duduk sambil berdiskusi selepas mengikuti perkuliahan. Dengan tertutupnya ruang diskusi itu maka dari situ pula akan melahirkan banyak mahasiswa apatis rerhadap keadaan yang terjadi di sekelilingnya. 

Ketika mencoba  melawan maka akan dibenturkan dengan persoalan akademik, ancaman DO. Mahasiswa  sengaja disibukkan dengan jadwal perkuliahan yang padat dan tugas yang menumpuk. Sehingga tugas dan tanggungjawab moralnya terlupakan. Doktrin PT hari ini bukan untuk melahirkan generasi pembaharuan, pemimpin tetapi hanya menciptakan begitu banyak sarjana, kelas pekerja bukan pencipta, yang bermodalkan IPK tinggi tanpa dibekali skill yang mumpuni pada akhirnya hanya menambah tingkat pengangguran. “IPK 4.00 hanya mengantarkanmu diwawancara saja” kata Anis Baswedan. Kuliah dilalui dengan cara sederhana : datang dengarkan lalu pulang. Kini anak-anak muda bercanda di kantin atau berpetualang dengan gadgetnya. Kampus makin padat kian sesak yang luas adalah tempat parkir dan selalu diberi spanduk untuk keluar bawa karcis atau STNK. Eko Prasetyo berkata bahwa “Kerap kali aku bingung ini kampus atau kantor satlantas”.

Terjebak didunia romantisme, kau bersanding dengan kekasihmu seakan kalian jadi pasangan sehidup semati. Jika hidup tetap bersama dan kalau mati segera cari ganti. Kulihat mereka pandai mencari uang segala. Training wirausaha banyak membuat banyak mahasiswa ingin jadi pengusaha muda lalu kaya terus berkeluarga. Sungguh potret hidup normal dan wajar. Padahal kehidupan sekelilingmu sedang tidak berjalan normal. Dorongan mahasiswa untuk berorganisasi dan biarkan mereka terlibat dalam soal-soal kemanusiaan. Tak mungkin kita akan menciptakan pendidikan yang mengantarkan anak-anak muda jadi buas, keji dan memikirkan dirinya sendiri. Lagi-lagi pembebasan tak mungkin lahir selama kita tidak disadarkan pada penindasan yang kita alami dan kita tak dilatih untuk terlibat dalam praktek melawan penindasan. Karena bangkitnya perubahan diawali dengan pemberontakan atas semua itu. Pertanyaannya beranikah kita melakukan itu semua?

“Jangan menunggu kebebasan tapi ciptakanlah kebebasan itu”

Pintu untuk menuju itu tak lain adalah organisasi mahasiswa. Hanya melalui itulah kampus akan jadi taman pengetahuan yang kaya akan imajinasi, inisiatif, dan terobosan. Karena kampus adalah gerbang kerjaan kebenaran dan itu mutlak adanya, kampus jangan dijadikan lahan propaganda politik murahan. Mental itu bisa mekar melalui pengalaman organisasi. Lewat organisasi kita mampu mengenal diri kita, kekuatan yang kita miliki dan kemampuan untuk bekerja sama serta kemapuan untuk bergerak menghadirkan keadilan di negeri kita yakni Indonesia.

Philip Brooks berkata “suatu hari,dalam tahun tahun yang akan datang, anda akan bergelut dengan godaan besar,atau gemetar dibawah penderitaan besar kehidupan anda. Akan tetapi perjuangan sesungguhnya adalah disini, sekarang….sekarang sedang diputuskan apakah, pada hari penderitaan atau godaan puncak, anda akan gagal secara menyedihkan atau menang dengan gemilang. Karakter tidak dapat dibentuk selain dengan proses yang tetap, panjang dan berlanju terus menerus”.

Ini sebuah kondisi yang memprihatinkan di dunia kemahasiswaan. Kampus menghidupkan aturan sembari mengorbankan mahasiswanya sendiri. Mahasiswa mirip kawanan domba yang digiring sesuai dengan keinginan aparat kampus. Sudah saatnya kebebasan yang dilacuri aturan kampus ini kita lawan bersama. Untuk mendapatkan kembali kebebasan berekspresi di kampus kita masing-masing.

Pendidikan negeri ini berkiblat ke barat disana anak-anak memang disiapkan untuk menjadi alat dari industri dan industri mereka berjalan tanpa berhenti tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa? Kita hanya jadi alat birokrasi ! Eko Prasetyo

HIDUP MAHASISWA!

HIDUP MAHASISWA!

HIDUP untuk kebebasan kita semua !!!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close